Senin, 21 April 2014

ungkapan pemikiran R.A. Kartini Djojo Adiningrat (1879 – 1904)


R.A. Kartini Djojo Adiningrat (1879 – 1904) bukan memperjuangkan kebaya ataupun dandan di salon. Untuk saudariku di Indonesia dan khususnya Jepara dan Rembang, berikut beberapa ungkapan pemikiran beliau.
======================
“Salah satu daripada cita – cita yang hendak kusebarkan
ialah: Hormatilah segala yang hidup, hak-haknya,
perasaannya, baik tidak terpaksa baik pun karena
terpaksa. Haruslah juga segan menyakiti mahkluk lain,
sedikitpun jangan sampai menyakitinya. Segenap cita –
citanya kita hendaklah menjaga sedapat – dapat yang kita
usahakan. Supaya semasa mahkluk itu terhindar dari
penderitaan, dan dengan jalan demikian menolong
memperbagus hidupnya: Dan lagi ada pula suatu kewajiban
yang tinggi murni, yaitu “terima kasih” namanya.”
“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu –
satunya hal yang benar – benar dapat menjatuhkanmu
adalah sikapmu sendiri.”
“Saat membicarakan org lain Anda boleh saja
menambahkan bumbu, tapi pastikan bumbu yg baik.”
“Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan, selain
menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama wajah
yang kita cintai.”
“Jangan mengeluhkan hal – hal buruk yang datang dalam
hidupmu. Tuhan tak pernah memberikannya, kamulah yang
membiarkannya datang.”
“Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah
selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi,
apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya
kejam.”
“Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! 2 patah kata
yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan
membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan.
Kata “Aku tiada dapat!” melenyapkan rasa berani. Kalimat
“Aku mau!” membuat kita mudah mendaki puncak gunung.”
“Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan,
pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi
hidup di dalam dunia nenek moyangnya.”
“Lebih banyak kita maklum, lebih kurang rasa dendam
dalam hati kita. Semakin adil pertimbangan kita dan
semakin kokoh dasar rasa kasih sayang. Tiada mendendam,
itulah bahagia.”
“Ikhtiar! Berjuanglah membebaskan diri. Jika engkau
sudah bebas karena ikhtiarmu itu, barulah dapat engkau
tolong orang lain.”
“Terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu
sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu.”
“Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba.
Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah
lagi untuk menang.”
“Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan
itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati
dengan rasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka
dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang
menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan
berdiri sendiri.”
“Tak peduli seberapa keras kamu mencoba, kamu tak akan
pernah bisa menyangkal apa yang kamu rasa. Jika kamu
memang berharga di mata seseorang, tak ada alasan
baginya untuk mencari seorang yang lebih baik darimu.”
“Saat suatu hubungan berakhir, bukan berarti 2 orang
berhenti saling mencintai. Mereka hanya berhenti saling
menyakiti.”
“Tetapi sekarang ini, kami tiada mencari penglipur hati
pada manusia. Kami berpegangan teguh-teguh pada
tangan-Nya. Maka hari gelap gulita pun menjadi terang,
dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi.”
“Adakah yang lebih hina, daripada bergantung kepada
orang lain?”
“Salah satu daripada cita – cita yang hendak kusebarkan
ialah: Hormatilah segala yang hidup, hak-haknya,
perasaannya, baik tidak terpaksa baik pun karena
terpaksa. Haruslah juga segan menyakiti mahkluk lain,
sedikitpun jangan sampai menyakitinya. Segenap cita –
citanya kita hendaklah menjaga sedapat – dapat yang kita
usahakan. Supaya semasa mahkluk itu terhindar dari
penderitaan, dan dengan jalan demikian menolong
memperbagus hidupnya: Dan lagi ada pula suatu kewajiban
yang tinggi murni, yaitu “terima kasih” namanya.”
“Karena ada bunga mati, maka banyaklah buah yang
tumbuh. Demikianlah pula dalam hidup manusia. Karena ada
angan – angan muda mati, kadang – kadang timbullah
angan – angan lain, yang lebih sempurna, yang boleh
menjadikannya buah.”
“Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan
paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup
menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak
menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam,
bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang
yang murni.” (dalam salah satu kalimat isi suratnya
kepada sahabatnya Ny. Abendanon di Belanda, tahun 1902)
“Habis gelap terbitlah terang”
0

0 komentar:

Posting Komentar